Membaca Alam dengan Iman

0
508

Oleh : Masykur

Sebuah Pengantar

Kehidupan di alam ini, tentu tidak hadir begitu saja. Hadirnya alam jagat raya ini adalah sebuah karya yang maha dasyat ada. Jika perancang alam ini bernama arsitek, tentulah arsitek itu adalah arsitek yang maha arsitek, jika ada yang mendesign alam jagat raya ini, tentulah Dia sang maha mendesign. Keteraturan alam yang begitu sistematis tentu bukanlah sebuah penciptaan yang asal-asalan. Adanya langit disertai bintang-bintang dan bumi dengan segala isinya yang menawan, ini adalah sebuah maha karya yang maha cerdas.

“Sistem matahari, planet-planet, dan komet yang sangat indah, hanya dapat berlangsung dengan tuntunan dan kendali Dzat Yang Mahacerdas. Dzat ini mengatur segalanya. Bukan sebagai sukma dunia, tetapi sebagai Tuhan bagi semuanya. Demi kekuasaan-Nya. Dia bisa disebut Tuhan, Penguasa Alam Semesta” – Sir Isaac Newton-

Jika ditanya, siapakah sang Mahacerdas yang menghasilkan karya Maha dasyat ini. Keyakinan orang-orang yang beriman pastilah akan menjawab “Tuhan” sang khaliq. Ajaran Islam meyakini semua yang ada di alam jagat raya ini, hadir atas kehendak dan kuasa Robbul ‘alamin – Tuhan seru sekalian alam. Firmannya dalam surat As-Sajadah [32] ayat ke 4 :

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dalam waktu enam hari, kemudian dia bersemayam di atas Arsy. Kamu semua tidak memiliki seorang penolong dan pemberi syafaat pun selain diri-Nya. Lalu, apakah kamu tidak memperhatikannya ?”

Ayat diatas, bukanlah satu-satunya ayat yang mengabarkan tentang pencipta alam semsta. Itu hanyalah satu dari sekian banyak ayat-Nya yang tersurat dalam Firman-Nya yang agung. Dalam Firman-Nya yang lain pun Allah Azza wa jallah mengabarkan bahwa Dialah satu-satunya sang Maha Pencipta yang agung. Surat Al-Baqarah [2] ayat ke 29 yang artinya adalah :

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” 

Sudahkah anda meyakini, bahwa Allah lah satu-satunya pencipta alam ini ? jika belum, tanyakanlah pada hati dan pikiranmu. Sejenak kita berfikir, mentadaburi alam semesta ini. Lihatlah sekeliling kita, amati dengan cara yang seksama. Adakah sesuatu yang tidak seimbang, jika belum jelas amatilah sekali lagi.

 

Alam dan Ateis

Tak dapat dipungkiri, bahwa ada sebagian manusia yang begitu sombongnya mengingkari adanya Sang Pencipta alam ini. Dengan kata yang angkuh ia mengucap, “Alam ini hadir dengan sendirinya”. Sungguh perkataan yang mengguncang iman dan menggetarkan jiwa. Jika benar seperti itu, bagaimana cara alam ini hadir dengan sendirinya ? mereka yang mengingkari dengan adanya sang pencipta (Tuhan) dijuluki sebagai Ateis. KBBI memberikan arti Ateis sebagai orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan: kelompok – tidak akan mengambil bagian dalam suatu upacara agama. (https://www.kbbi.web.id/ateis).

Benarkah seperti itu ? Mari kita mengambil salah satu contoh maha karya dari se-ekor burung yang beterbangan. Siapakah yang sanggup menciptakan makhluk yang satu ini dengan sayapnya yang menerbangkan? Mungkinkah burung lahir dengan sendirinya, atau ada manusia yang menciptakan, jika ada yang menjawab manusia, siapakah nama manusia itu, secanggih apakah teknologi yang ia gunakan untuk menciptakan sebuah makhluk yang bernama burung. Sejauh bacaan penulis, belum pernah menemukan nama orang yang menemukan atau membuat burung. Jika ada yang menjawab, jangankan burung yang kecil dan ringan, pesawat yang begitu besar dan beratpun mampu manusia menciptanya. Ya benar, pesawat itu manusia yang menciptakan, namun dari mana sumber ide untuk menciptakan itu, tentu ada Dzat yang mampu memberikan ide yang dasyat itu.

Masih ingatkah seorang Atheis pencetus teori Evolusi. Ya, ia bernama Charles Darwin akrab dipanggil dengan Darwin, dan para pengikut pemikirannya disebut Darwinisme. Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan pernah digemparkan dengan sebuah teori yang menjadi bagian dari pelajar penting dalam ilmu sains kususnya dibidang Biologi. Evolusi yang berarti perubahan (pertumbuhan, perkembangan) secara berangsur-angsur dan perlahan-lahan (sedikit demi sedikit). Teori ini mengungkap tentang proses terciptanya spesies atau makhluk hidup baru. Tahun 1858 Darwin mempublikasikan The Origin yang memuat dua teori utama yaitu: Spesies yang hidup sekarang berasal dari spesies lain yang hidup di masa lampau dan Evolusi terjadi melalui seleksi alam.

Teori evolusi yang dicetuskan oleh Darwin pada dasarnya hanyalah sebuah dugaan dari amatannya saja. Berangkat dari kajian empirisnya selama berlayar di Amerika Selatan lalu disimpulkannya teori evolusi yang mencari asal-usul kehidupan alam ini. Syamsudin Arif (2017) mengungkapkan, dalam konstruk epistemologi Islam, pengetahuan semacam ini disebut Zhann atau sangkaan. Validitasnya hanya sedikit lebih tinggi dari keragu-raguan dan kira-kira (wahm). Pengetahuan yang dibangun di atas teori serupa ini tidak sampai derajat yakin. Hal ini tersurat dalam Firman-Nya Qur’an Surat An-Najm [53] ayat ke 28 :

“Dan mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu. Mereka tidak lain hanyala mengikuti dugaan, dan sesungguhnya dugaan itu tidak berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran”.

Jika tidak dapat memberikan faedah, lantas untuk apa diambil. Namun tak dipungkiri, dalam Sains Modern sulit rasanya menghindari teori yang satu ini, dengan dalih empiris dan ilmiah. Ujar sahabat Syamsudin Arif (2017) “ Susah pak, menolak teori evolusi kalau ingin menjadi ahli biologi sekarang ini”. Begitulah, ketika peradaban ilmu pengetahuan (sains) di kuasai oleh orang-orang yang tidak beriman.

Terciptanya Alam Semesta

Allah Subhanahuwata’ala menciptakan alam semesta ini dengan proses yang sistematis dan penuh strategis. Gambaran bagaimana Ia membuat alam jagat raya ini sehingga bumi dan langit terlihat jauh yang dahulu sempat menyatu. Semuanya telah ditentukan dengan waktu dan ukuran yang penuh dengan keseimbangan. Dalam Qur’an surat Al-Anbiya [21] ayat 30 menjelaskan proses pemisahan yaitu :

“ Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mereka tidak beriman?”

Ayat ini telah menjadi bahan penelitian dikalangan ilmuwan. Tentu bagi mereka ini adalah sebuah informasi yang menghentakkan. Dari ayat di atas sebuah teori mendukung bahwa alam ini dahulu bersatu padu, kemudian dipisahkannya menjadi langit dan bumi dengan suatu peristiwa yang sangat dasyat. Tauhid Nur Azhar (2012) dalam bukunya yang berjudul Alam, Sains dan Teknologi (Mengurai tanda-tanda Kebesaran Allah di Alam Semseta) menuturkan bahwa peristiwa tersebut diamini oleh teori Big Bang yang diawali singularitas (sesuatu yang pampat lagi padu) yang kemudian berproses atas kehendak Dzat Yang Mahakuasa untuk membentuk berbagai tata surya dan melebarkan medium langit.

Big bang adalah teori tentang asal dan evolusi alam yang paling banyak diterima. Teori ini mengatakan bahwa alam semesta berasal dari keadaan terkompresi dengan rapat yang tidak terhingga dan mulai mengembang sekitar 13,7 miliar tahun yang lalu. Nama big bang sendiri diberikan oleh Fred Hoyle. Big bang la yang berarti ledakan dasyat membuktikan kedasyatan sang Maha Dasyat yang telah menciptakan alam semesta ini begitu tersistematis.

Dari peristiwa ini, terciptalah susunan tata surya yang begitu luas sebagaimana firman-Nya dalam surat Az-Zariat [51] ayat ke 47 :

“Dan langit Kami bangun dengan kekuasaan Kami, dan Kami benar meluaskannya”

juga terciptalah bumi yang panas dan mulailah membentuk kerak-kerak aktif di permukaannya. Bumi yang awalnya gersang, diturunkannya hujan sebagai penghidupan yang menghidupkan tanaman dan tumbuh-tumbuhan sebagai bekal untuk makhluk yang menjadi penghuni bumi. Selaras dengan Firman-Nya dalam surat Ar-Rum [30] ayat ke 24 :

“Dan diantara ayat-ayat-Nya, Dia memperlihatkan petir yang menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi setelah matinya. Sesungguhnya dalam gejala alam itu terdapat ayatullah bagi mereka yang menalar”

Alam dan Iman

Sekarang, kita akan membicarakan bagaimana korelasinya antara alam (sains) dan keimanan. Apakah keduanya saling berbenturan, ataukah saling mendukung diantara keduanya. Jika alam semesta ini telah sedikit dibahas pada pembahasan di atas, selanjutnya sedikit akan kita bicarakan tentang iman.

Seorang ulama bernama Syeikh Shalih bin Fauzan Al-fauzan (2015) dalam kitabnya yang berjudul “Kitab Tauhid” memberikan penjelasan tentang makna Iman, secara etimologi iman berarti pembenaran hati, secara terminologi iman berarti pembenaran dalam hati, pengakuan dengan lisan, dan pengamalan dengan perbuatan. Keimanan yang dimaksud adalah dengan ke-Islam-an. Ajaran utama dalam agama ini adalah tauhid. Masih mengambil dari buku Syeikh Shalih (2015), tentang tauhid. Tauhid adalah meyakini keesaan Allah dalam rububiyah, ikhlas beribadah kepada-Nya, menetapkan bagi-Nya nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta menyucikan-Nya dari kekurangan dan cacat.

Tauhid yang pertama adalah tauhid rububiyah, dan inilah maksud dalam pembahasan kita kali ini. Adapun pengertian dari tauhid rububiyah sendiri adalah mengesakan Allah dalam segala perbuatan-Nya dengan meyakini bahwa Dia sendiri yang menciptakan seluruh makhluk. Firman-Nya dalam surat Az-Zumar [39] ayat ke 62 :

“Allah menciptakan segala sesuatu…”

Dalam tauhid ini, memberikan keyakinan bahwasannya alam ini hadir tidak dengan sendirinya. Hal ini membuktikan bahwa ada sang maha kuasa alam jagat raya ini, yang mempunyai peran dalam menghadirkan sesuatu yang tak sanggup satupun mkhluk untuk menandingi-Nya. Dia lah Allah Azza wa jallah. Penguasa alam semesta ini. Firman-Nya dalam surat Al-A’raf ayat ke 54 dan Al-Mu’minun ayat ke 86-89 :

“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutup malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) Matahari, Bulan dan Bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam”

“Katakanlah, Siapakah yang mempunyai langit yang tujuh dan yang memiliki ‘Arsy yang besar ? Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘maka apakah kamu tidak bertakwa? Katakanlah, siapakah yang ditangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetpai tidak ada yang dapat melindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah…”

Selain Allah menciptakan, Allah pula yang menjaga dan mengatur segasa isi alam ini. Bukti dari penjagaan-Nya ialah diberikannya rizki setiap makhluk yang ada di alam ini. Maka firman-Nya dalam surat Hud ayat ke 6 :

“Dan tidak ada satupun binatang melatapun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rezekinya…”

Cukup sudah rasanya dengan uraian-uraian di atas, yang membuktikan bahwa alam ini hadir atas kehendak dan kuasa Allah Azza wajallah. Masihkah kita ragu dan berpaling dari-Nya?. Hadirnya alam dan seisinya ini untuk lebih meyakinkan kita bahwa ada Dzat yang Maha Dasyat dengan kuasa-Nya menghadirkan semua ini.

 

 

Penutup

Teringat kisah Ibrahim sang pencari Tuhan, bagaimana ia mencari dengan mengira bahwa bulan mungkin inikah Tuhan yang dicari, jika itu benar mengapa bulan menghilang dengan datangnya siang, jika Tuhan adalah matahari mengapa menghilang pula saat malam datang (pikirnya dalam hati). Pendapat ahli tafsir menjelaskan, bahwa kisah ibrahim tersebut untuk memberikan bukti kepada kaumnya yang musyik yang telah menjadikan bulan dan bintang sebagai sesmbahannya.

Matahari, bulan dan bintang hanyalah sekian dari ciptaan-Nya yang tak terhitung jumlahnya sebagai ayat-ayat-Nya yang tersirat di alam raya. Ke Maha Besaran-Nya tak sanggup untuk bumi menampakkan-Nya. Hanya dengan ke-Imanan lah yang sanggup menghadirkan-Nya dalam benak jiwa sang hamba. Sesungguhnya, sembah dan sujud patutlah kita haturkan hanya kepada-Nya. Wallahu’alam.

 

Daftar Pustaka

  1. Alqur’an dan Terjemahannya
  2. Al-Fauzan, Shalih bin Fauzan. Kitab Tauhid. Umul Qura. Jakarta
  3. Arif, Syamsudin. 2017. Islam dan Diabolisme Intelektual. INSISTS. Jakarta.
  4. Azhar, T.N. 2012. Alam, Sains dan Teknologi (Mengurai tanda-tanda keesaan Allah di Alam semesta). Tinta Medina. Solo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here