EKO ANDRIANTO : Aku Bangga Menjadi Kader PII

0
77

“Senang sekali bersinggungan zaman dengan seorang anak muda dari tanoh lado yang punya passion inklusivitas, cerdas dan humoris seperti seorang Eko Andrianto”, begitu kata salah seorang seniornya.

Eko, begitu sapaan akrab alumnus Fakultas Pertanian Universitas Lampung ini di lingkungan tempat tinggalnya, kost-an, sekolah, kampus, maupun di organisasi yang ia geluti. Penggemar serial drama Korea sekaligus yang getol mempersonifikasikan dirinya sebagai Bi Dam ini, merupakan salah satu pelajar berprestasi.

Eko berprestasi karena sejak duduk di bangku SD hingga SMP selalu mendapatkan peringkat pertama dan hanya belajar tanpa pernah ikut berorganisasi. Namun ketika ia mulai duduk di bangku kelas 10 SMA, Eko mulai aktif di PII sejak kelas 10 seusai mengikuti Basic Training PII di sekolahnya pada 24 – 29 Desember 2007.

Keaktivannya di PII itu tentu saja bukan tanpa halangan. Kedua orang tuanya pun sempat mengkhawatirkan dirinya, oleh karena prestasinya menurun saat duduk di kelas 11 semester 1 (rangking 2). Namun bukan Eko namanya jika tidak mampu meyakinkan kedua orang tuanya. Ia kembali meraih rangking 1, bahkan disaat aktif di lima organisasi sekaligus terutama Pelajar Islam Indonesia (PII).

Pada saat ia masih duduk di bangku kelas 10, Eko pernah mewakili sekolahnya dalam even Olimpiade Sains Pelajar tingkat Kabupaten dalam bidang Matematika. Ketika ia di kelas 11, ia pun sempat mewakili kembali sekolahnya dalam even serupa dalam bidang Kimia.

Eko pernah menuturkan bahwa dirinya terancam tidak bisa melanjutkan kuliah karena kekurangan dana. Namun kemauan dan tekad yang kuatlah yang kemudian membuatnya memperoleh beasiswa. “Aku bangga menjadi kader PII, karena dengan aktif di PII memberiku pelajaran yang begitu berharga untuk tidak pernah menyerah pada keadaan”, tutur Eko kepada salah seorang seniornya di PII Lampung.

Setelah lulus dari SMAN 1 Terusan Nunyai Kabupaten Lampung Tengah pada tahun 2010, Eko merupakan satu-satunya siswa PKAB (Penelurusan Kemampuan Akademik dan Bakat) asal sekolahnya yang memperoleh beasiswa Bidik Misi. Beasiswa itu ia peroleh karena dua alasan, karena dianggap kurang mampu, dan karena memiliki prestasi. Beasiswa Bidik Misi adalah beasiswa yang terdiri dari biaya hidup dan uang SPP, sehingga dirinya tidak perlu memikirkan uang SPP, biaya ngekost, biaya makan, biaya transportasi dan biaya buku karena sudah diberikan oleh Departemen Pendidikan Nasional melalui Universitas Lampung.

Prestasi Eko tidak hanya sampai disitu. Pada tahun 2012, Eko menjadi juara 1 dalam Lomba Menulis Lembar Jum’at Tingkat Nasional dengan mengalahkan ratusan peserta lomba lainnya dari seluruh Indonesia.

Eko juga terpilih sebagai peserta dari Lampung dalam agenda Dialogue in Diversity dan bergabung dalam Komunitas Cinta Indonesia. Keikutsertaan dirinya dalam agenda tersebut, tak lain karena ia memiliki passion inklusivitas. Inklusivitas secara sederhana dimaknai sebagai paradigma (kerangka berpikir/cara pandang) dan sikap dalam menghargai keberagaman apapun di Indonesia. Sebab Indonesia merupakan negara majemuk yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras, golongan, pemikiran, bahasa, adat istiadat, dan sebagai warga negara yang baik wajib menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Eko pun pernah berpartisipasi menghadiri Sumatera Peace Summit oleh Komunitas Indonesia Future Leader (Komunitas Pemimpin Indonesia Masa Depan).

Eko menggemari banyak sekali referensi bacaan, khususnya tentang pemikiran Islam, filsafat, multikulturalisme, teologi dan sosial, selain bacaan tentang hama tanaman yang merupakan konsentrasi yang ia pilih di jurusan Agroekoteknologi tempatnya menuntut ilmu pada waktu studi S1, serta tak ketinggalan Kamus Bahasa Korea.

Apabila kita berkesempatan bersilaturahim ke rumah orang tuanya di Lampung Tengah, tempat kost-nya di Bandar Lampung, dan termasuk juga di Shizouka, Jepang saat ini—buku-buku bacaan koleksinya itu tersusun rapi sedemikian rupa di lemari, rak buku, meja belajar dan bahkan tak jarang memenuhi setiap sudut kamar.

Eko pernah menuturkan bahwa ia ingin melanjutkan kuliah ke Korea, namun takdir berkata lain. Setelah lulus dari jurusan Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Unila, sembari beraktivitas sebagai Peneliti Klinik Tanaman di Fak. Pertanian dan berkecimpung menjadi kader PII nasional alias “anak menteng”, Eko memperoleh beasiswa dari Asian Bridge Programme dan diterima di Shizouka University Jepang.

Itulah sedikit pengalaman dari seorang Anak Menteng bernama Eko Andrianto dari Bandar Agung Lampung Tengah, tempat asalnya menuju Jakarta hingga menjajaki negeri matahari terbit, Jepang. Man saara ala darbi washala (barangsiapa konsisten di jalannya, niscaya akan sampai di tujuannya).

Biodata:

Nama              : Eko Andrianto, S.P

TTL                 : Lampung Tengah, 21 Januari 1992

 

Pendidikan     : – S1 Agroekoteknologi Fak. Pertanian Universitas Lampung

– S2 Biological dan Environmental Science Shizouka University

Jepang

Pengalaman Organisasi di luar PII :

  • Wakil Ketua OSIS SMU Negeri 1Terusan Nunyai Lampung Tengah
  • Fungsionaris SMU ROHIS SMU Negeri 1 Terusan Nunyai Lampug Tengah (2007 – 2008) saat masih duduk di kelas 10
  • Akibat suka menulis, bersama teman-teman PII Se-SMAN 1 Terusan Nunyaikan untuk pertama kalinya organisasi ekstrakurikuler MADING.
  • Kepala Divisi Tutorial BBQ, Forum Studi Islam Fakultas Pertanian Universitas Lampung 2011 – 2012.

Pengalaman Organisasi di PII :

  • Ketua Umum Pengurus Komisariat PII SMUN 1 Terusan Nunyai 2007 – 2008
  • Ketua Bidang Kaderisasi Pengurus Daerah PII Lampung Tengah 2008 – 2009
  • Sekretaris Umum Pengurus Wilayah PII Lampung 2009 – 2011
  • Ketua Umum Pengurus Wilayah PII Lampung 2012 – 2014
  • Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Pengurus Besar PII 2015 – 2017.

Hobi    : Membaca buku, menulis essay, dialog, traveling dan menonton drama Korea

Cita-Cita : Dosen dan penulis produktif.

Writer : Rifka Yudi (Akademisi, Dosen, Kabid Kaderisasi PW PII Lampung, Mantan Fungsionaris PB PII)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here