Djayadi Hanan : Jagoan Beasiswa dari kota Mpek – mpek

0
161

Sejak kecil ia senantiasa diselimuti kemiskinan. Kala itu, kemiskinan hanya dianggap sebagai warna dalam kehidupannya. Namun, ia tidak menyerah pada keadaan, bahkan akhirnya ia mampu menaklukkannya. Warna kemiskinan itu diubahnya dengan perjuangan tiada henti. “Belajar”, begitu katanya. Tak heran kalau kemudian ia memetik buah perjuangannya. Prestasi siswa teladan diraihnya beberapa kali. Hampir seluruh pendidikannya dijalani dengan gratis alias beasiswa. Siapakan dia?

            Dialah Djayadi Hanan, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PII) periode 1998 – 2000. Pemuda kelahiran Plaju Sumatera Selatan ini, terkenal dengan “jagoan beasiswa.” Sejak SMPN 16 Palembang, hingga mengambil Pendidikan Master (S2) Ilmu Politik di Ohio State University, Amerika dijalaninya dengan gratis. Walaupun demikian, ia tidak mengandalkan ‘mantel kemiskinannya’ untuk mencari beasiswa. Keikhlasan dan kesungguhan dalam belajar, itulah kunci suksesnya.

            Berasal dari keluarga yang teramat sederhana tak membikinnya minder. Bahkan, kehidupan yang serba kekurangan dari sejak kecil membentuknya menjadi orang yang sangat mudah menghargai orang lain. Sifat rendah hati juga tertanam dalam dirinya yang ingin punya pendamping hidup dengan dokter ini, yang kemudian keinginannya itu kini telah tercapai dan telah dikarunia buah hati.

            Kini, pria yang pernah bercita – cita jadi pesenam ini, dan pernah tinggal di kota kecil di Athens, Ohio Tenggara, Amerika saat mempelajari ilmu politik di Ohio State University, kini telah mengambdikan ilmunya sebagai akademisi di Universitas Paramadina Jakarta. Penasaran kan pengen tahu lebih jauh siapa orangnya? Yuk, kita simak langsung penuturan Bang Jay- begitu ia biasa disapa- dalam mengisi lika – liku hidupnya.

Saya lahir di pinggiran kota Palembang, tepatnya di Plaju. Kota yang termasuk bagian dari kota Mpek – mpek ini dilihat situasinya seperti desa. Alhamdulillah, kedua orang tua saya masih hidup. Bapak saya nyewa sawah dan ibu saya ikut membantu bekerja di sawah. Saya putra kelima dari sembilan bersaudara. Saya banyak belajar dari kepribadian Bapak saya, terutama kesederhanaannya. Pendidikannya cuma Sekolah Rakyat di zaman Jepang. Itupun tidak tamat, ibu saya buta huruf. Tetapi, beliau nggak pernah melalaikan shalat Shubuh. Pukul enam itu tidak mungkin tidur lagi. Saya harus bangun pukul setengah lima dan harus mandi karena Bapak saya sudah bangun dan mandi untuk shalat shubuh. Nah, dari itu saya mendapat ajaran kedisiplinan.

Kalau musim panen, saya ikut ngusir burung. Saya tumbuh di tempat seperti itu, bermain dengan teman – teman di kampung, main layang – layang dan sebagainya. Waktu kecil saya memang tidak terlalu sering bermain dengan teman – teman. Saya lebih suka membaca Koran.

Waktu kecil keluarga kami sangat memprihatinkan. Saya sedih mengingat itu. Saya lihat hidup orang tua saya susah. Beli pakaian susah, beli buku apalagi. Saya pikir, wah gimana yach caranya supaya nggak begini? Kata guru di sekolah, saya harus belajar, ya sudah saya belajar. Kalau mau main dengan teman – teman pun saya nggak bisa. Masalahnya, zaman saya, anak – anaknya senang main sepeda dan sementara saya nggak punya sepeda.

Saya termotivasi belajar sejak SMP. Selain karena bacaan, saya juga kagum dengan guru saya. Beliau selalu mengantar saya pulang ke rumah. Ya, kira – kira 3 km jaraknya dari sekolah ke rumah saya.  Waktu itu kan saya tidak punya sepeda, guru saya suka memotivasi. Saya dapat beasiswa sejak di SMP Negeri 16 Palembang tahun 1984 – 1987. Beasiswa diberikan oleh sekolah karena dua alasan. Pertama, karena saya anak orang miskin, he he he. Tak begitu kuat bayar uang sekolah. Kedua, karena saya dianggap berprestasi. Menjadi siswa teladan tingkat provinsi, menang di Lomba Cepat Tepat TVRI, menang di Lomba Cepat Tepat Matematika, jadi pimpinan regu Senam Pagi Indonesia (SPI) dan jadi juara lomba tingkat Sumatera Selatan, jadi Wakil Ketua OSIS dan etc-lah.

Di SMA (1987 – 1990) saya menjadi pelajar teladan tingkat nasional, tepatnya tahun 1989. Saya diundang oleh Bapak Soeharto ke Istana Negara, dikasih buku macem – macem termasuk biografinya, dikasih duit sama Yayasan Ibu Tien (Yayasan Ria Pembangunan) dan dikasih foto Bapak Soeharto. Tetapi nggak pernah kupajang, Cuma kutaruh ditumpukan buku, he he he. Terus sesampainya di Pelembang dikasih beasiswa dari Depdikbud (sekarang Depdiknas—red). Kalau nggak salah dua puluh ribu rupiah perbulan. Lumayan kan untuk ukuran saat itu?

Masuk Universitas Sriwijaya di Palembang, saya pake uang tabungan dari beasiswa di SMA. Sebelumnya Bapak dan emakku, sudah ketakutan, jangan – jangan nggak bisa nerusin sekolah. Tetapi saya cuek saja, pokoknya kuliah. Saat itu saya sudah masuk PII—jadi Ketua Umum Pengurus Komisariat (di PII, tingkat kecamatan / sekolah). Lalu, saya mendapat beasiswa pertama – tama dari Yayasan Bimantara (milik Bambang Trihatmodjo—red). Tetapi teman – temanku di PII kasih komentar begini, “kamu bilang nggak suka dengan Soeharto, tapi kamu dapat beasiswa dari anaknya?” Saya tersenyum saja dengan ledekan itu. Terus, saya jawab saja, “yang dia berikan itu sebetulnya sebagian kecil dari uang kita (rakyat) yang ia rampas bertahun – tahun. Jadi, sementara belum bisa   merubuhkan dia, kita ambil uangnya dulu, supaya jadi pintar. Terus, bisa mengkritik dia lebih sistematis lagi. “

Lagian, kalau nggak dapat beasiswa kuliah bisa tersendat. Selain Bimantara, saya juga mendapat beasiswa Top Students Scholarship dari yayasan Toyota. Beasiswa ini diberikan, untuk mahasiswa yang IP-nya di atas 3,5 dan dianggap memiliki potensi kepemimpinan di masyarakat.   Saya tetap dapat beasiswa ini sampai tamat. Saat saya menang lagi di lomba mahasiswa teladan tahun 1994, saya dapat uang lagi. Lumayan buat membiayai penulisan skripsi. Selepas mahasiswa, januari 1995, saya bertekad melanjutkan study ke S2, berarti harus cari beasiswa lagi. Sementara belum dapat, saya cari kerja dulu.

Saya mengajar sejarah, PMP, PSPB dan bahasa Inggris di SMA. Waktu saya ngajar bahasa Inggris di salah satu SMA di Palembang, tahun 1995 itu, gajiku 33 ribu sebulan. Lumayan daripada nggak ada gaji, he he he. Saya terus cari kerja yang lain juga, sampai saya ketemu teman yang punya lembaga kursus bahasa Inggris. Lantas, saya diajak ngajar. Nama lembaga kursus itu budiwijaya di Palembang, sekarang muridnya di atas dua ribu-an orang.

Kemudian ada lowongan beasiswa URGE (University Research for Graduate Education) atau Program Beasiswa Unggulan untuk Program Pasca Sarjana dalam negeri. Saya ikut seleksi untuk program Political Science di UGM. Alhamdulillah, saya lulus. Mulai September 1996 saya kuliah Magister di UGM, sampai selesai tahun 1999. Beasiswa ini berasal dari World Bank (Bank Dunia), saat itu merupakan beasiswa dengan jumlah paling besar dibanding beasiswa lainnya.

Tahun 1998 teman – teman mengamanahiku jadi Ketua Umum PB PII di forum Muktamar Nasional PII. Selepas dari PII, saya ngebet mau kuliah ke luar negeri. Tahun 2000 saya dapat info dari Bang Andi Mallarangeng bahwa Brtish Council memberi beasiswa untuk Short Course Democracy. Waktu itu, saya asisten Bang Andi di IIP (Institut Ilmu Pemerintahan—red). Lantas, saya ikut seleksi, Alhamdulillah lulus lagi. Jadilah, kemudian saya berangkat ke Inggris bersama tiga belas orang lainnya.

Dari Inggris saya menghubungi Dr.Elizabeth Collins di Amerika, mengabarkan bahwa saya sedang berada di London mengikuti Short Course Democracy, selama satu bulan. O ya, saya berkenalan dengan Ibu Liz Collins ini sejak tahun 1994 ketika ia melakukan penelitian tentang Islam di Sumatera Selatan, dan saya menjadi asisten penelitiannya saat itu. Saya terus kontak dengan dia. Dari pembicaraan dari Inggris itu, kenapa nggak study untuk degree saja, kujawab belum ada kesempatan, kecuali kalau ia mau memberikan kesempatan itu.

Saya tahu saat itu ia Direktur Southeast Asian Studies Program di Ohio University. Saya kirim CV ke dia, kemudian dia menawarkan untuk sekolah di tempatnya, beasiswa dari Universitas, dengan catatan tidak bisa langsung ke Phd (Philosofy of Doctor / S3), harus lewat Master lagi. Maka kusanggupilah permintaannya itu, dan pada bulan Maret 2001, saya mulai belajar politik di Departement International Studies, Ohio University.

Beasiswaku berada dalam program Graduate Associateship. Program ini mengharuskan saya bekerja untuk Universitas selama 15 jam seminggu. Saya bekerja untuk Research Asistant untuk satu orang Profesor disini, membantu dia dalam menyelesaikan berbagai penelitiannya. Nah, itulah pengalaman saya dari Palembang hingga ke Amerika.

O ya, aku ingin ngasih tips khusus untuk dapat beasiswa. Pertama, kuatkan niat dan kemauan. Kedua, selalu bergaul dan cari informasi. Ketiga, peliharalah selalu hubungan dengan berbagai orang dan lembaga, bangun jaringan. Keempat, berdoalah selalu. Allah tidak akan membiarkan orang yang berkemauan baik tidak menemukan jalan untuk mewujudkannya. Dari pengalamanku, “kecukupan financial, bukanlah kunci sukses, tapi merupakan pendukung yang baik. Kunci sukses adalah niat yang baik, tekad yang tak kenal kompromi, kemampuan yang memadai, yang diperoleh dari ketekunan dan latihan terus – menerus”.

Kalau ada anak yang kekurangan secara financial, tapi punya kemampuan oke, InsyaAllah dia bisa melanjutkan sekolah. Tahu nggak, banyak lembaga yang bingung lho harus mencari kemana orang yang bisa memakai uang mereka. Tentu saja, karena mereka harus menemukan orang yang qualified untuk itu

 Biodata

Nama               : Djayadi Hanan

Panggilan         : Jay

TTL                 : Plaju, Palembang 29 Januari 1972

Pendidikan Terakhir    : S3 Political Science, Departemen of International Studies, Ohio University, Athens, USA.

Organisasi     

  • Ketua Kelompok Studi Kebudayaan Pemuda Pelajar (KSKPP) Pelembang 1989 – 1991
  • Pelajar Islam Indonesia (PII) :
  • Ketua Umum Pengurus Komisariat 1990 – 1991
  • Ketua Umum Pengurus Daerah Kota Palembang 1992 – 1993
  • Ketua Umum Pengurus Wilayah Sumatera Selatan 1993 – 1995
  • Ketua Umum Pengurus Besar 1998 – 2000

Prestasi

  • 1984 : Siswa Teladan SD Se-Kodya Palembang
  • 1986 : Siswa Teladan SMP Se-Provinsi Sumatera Selatan
  • 1989 : Siswa teladan SMA Tingkat Nasional
  • 1994 : Mahasiswa Berpretasi Utama/Mahasiswa Teladan Universitas Sriwijaya

Motto

Hidup adalah belajar, mencintai,mengabdi, dan berbahagia.

 Referensi Tulisan*

*Lembar Khazanah, Kolom Teman Kita Majalah Islam Sabili Edisi No.21 TH.IX

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here