Hayatun Munawaroh, “A Queen of Womenpreuner”

0
102

Nama lengkapnya Hayatun Munawaroh, “Aya” orang-orang terdekat biasa memanggil dengan sebutan demikian. Dara muda kelahiran 10 november tahun 1995 ini baru saja menamatkan pendidikan strata satu di UIN Raden Intan Lampung jurusan pendidikan biologi. Ia menempuh pendidikan formal di SDN 3 Sidodadi kemudian melanjutkan jenjang pendidikan menengah di sekolah keagamaan yaitu MTs Babul Hikmah Kalianda serta MA Salafiyyah Kajen Margoyoso Pati Jawa Tengah. .

Dara muda yang memiliki kegemaran dalam bidang design grafis ini telah memulai usaha berjualan online sejak berada dibangku perkuliahan tepatnya pada tahun 2014. Mulanya hanya sebatas ‘iseng-iseng’ saja karena hasil yang didapat dari berjualan online ia gunakan kembali untuk membeli kebutuhan bagi dirinya sendiri. Namun akhirnya seiring berjalannya waktu permintaan akan barang-barang online yang mencakup kebutuhan perempuan seperti jilbab, gamis, handsock, kaos kaki, manset dan lain-lain semakin meningkat sehingga keuntungan yang diperolehpun semakin bertambah. Tak urung juga terkadang barang-barang yang ditawarkan tidak sesuai dengan permintaan pembeli atau mengalami kecacatan sementara barang sudah ada ditangan sehingga akhirnya barang itu digunakan sendiri. Hal itu tidak menyurutkan harapannya untuk tetap berjualan hingga ia memperluas pemasaran barang dagangannya melalui sosial media.

Selain berjualan online, Aya beserta kakak kandungnya sempat membuka kedai bakso bakar di sekitar daerah Sukarame Bandarlampung dengan nama “Bakso Aw”. Kedai fast foodnya ini menyediakan berbagai menu makanan instan yang memiliki harga relatif bersahabat dikalangan pelajar maupun mahasiswa sehingga selalu ramai pembeli saat jam-jam istirahat, selain itu juga menerima jasa antar apabila pembeli berada jauh dari kedai.

salah satu menu bakso bakar awesome

Tidak hanya itu saja, untuk terus memenuhi panggilan akan jiwa kewirausahaannya, Aya juga menjadikan design grafis sebagai salah satu peluang untuk meraup keuntungan dan mengembangkan kemampuannya. Ia membuka jasa untuk mendesain wajah bentuk vector,  logo, banner, undangan pernikahan dan lain-lain. Harapannya kedepan adalah ia dapat membua sebuah toko percetakan dan usaha desainnya ini semakin berkembang. Ia begitu menikmati usahanya dibidang ini sehingga sering mendapat undangan sebagai pemateri untuk mengisi pelatihan design grafis di lingkungan kampusnya. Woow what a pride achievement ! Alasan terbesar aya sangat menyukai dunia desain grafis adalah pertama dengan mendesain ia dapat belajar lebih sabar, dalam arti saat harus menemukan ide-ide yang berserakan yang tak serta merta dapat muncul begitu saja. Hingga kemudian dapat di satukan menjadi sebuah bentuk visual yang indah. Kedua, mendesain bukan hanya ada pada sebuah layar monitor laptop atau komputer namun dalam arti yang lebih luas adalah mendesain kehidupan ini agar sesuai porsi dan tidak berlebihan. Pas, berkarakter dan indah dilihat.

Selain berkarir sebagai seorang pebisnis perempuan, Aya mengahabiskan masa-masa kuliahnya untuk aktif di dalam organisasi baik yang sifatnya internal maupun ekternal kampus sehingga menjadikannya begitu sibuk. Menurut Aya menjadi seorang aktivis menuntut kita untuk belajar membagi waktu, baik untuk kehidupan pribadi, kuliah dan organisasi. Ia sering kali begadang hingga pagi hanya untuk mengerjakan hal-hal remeh terkait kepentingan organisasi. Dan hal itu berimbas kepada jadwal tidur harian hingga sekarang sehingga menyebabkan ia mengalami gangguan tidur (insomnia). Karena ia merasa timing yang tepat untuk mengeluarkan ide-ide liar adalah tepat tengah malam sehingga memudahkannya untuk mendesain, menulis atau mengedit video.

Salah satu organisasi eksternal yang diikuti adalah Pelajar Islam Indonesia. Ia mengenal organisasi ini sejak duduk di bangku kelas 10 madrasah aliyah. Banyak hal yang telah ia korbankan untuk tetap berada dalam organisasi ini meskipun ada larangan dari pihak sekolah. Hingga kini ia baru saja menyelesaikan amanah kepengurusannya sebagai ketua satu bidang kaderisasi pengurus wilayah pelajar islam ndonesia (pw pii) Lampung masa bakti 2015-2017. “PII adalah rumah yang sangat dirindukan kehadiran nya. seberapa jauh saya pergi, saya akan kembali kerumah ini. Karena rumah ini yang sudah mendidik saya sedemikian rupa menjadi saya yang seperti sekarang” ujar Aya saat ditemui disela-sela kesibukannya.

Selain itu ia berpesan kepada para pembaca dan generasi muda untuk Belajar mencintai apa yang kamu sukai, tekuni dan ulangi berkali-kali. Karena tidak ada keberhasilan tanpa sebuah perjuangan. Gagal itu biasa, tapi berusaha untuk tidak gagal agi itu baru luar biasa. Sampai bertemu di kisah inspiratif selanjutnya.

Author : Tetsuyaki Rahamawachi

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here