Anak-anak berkebutuhan khusus diidentikan dengan anak-anak yang memiliki hambatan baik perkembangan maupun hambatan belajar. Kategori yang termasuk didalamnya yaitu anak-anak dengan kondisi cacat fisik, mental dan psikis. Anak-anak dengan kondisi demikian memerlukan perlakuan khusus untuk mengatasi hambatan-hambatan mereka dalam belajar sehingga terpenuhi apa yang seharusnya menjadi kebutuhan akan pendidikan.

Anak-anak berkebutuhan khusus berdasarkan sifatnya diklasifikasikan menjadi dua yaitu sementara (temporer) contohnya hambatan membaca pada anak-anak usia sekolah yang terbiasa menggunakan bahasa ibu (bahasa daerah), anak-anak korban becana alam yang menderita trauma berkepanjangan dan yang sifatnya menetap (permanen) seperti anak-anak penyandang cacat ( tuna netra, tuna rungu, tuna wicara, tuna daksa, tunga grahita, tuna laras dan lain sebagainya). Lingkup pendidikan anak berkebutuhan khusus lebih luas karena mencakup kedua klasifikasi tersebut.

Di beberapa negara termasuk Indonesia, pemerintah menyediakan beberapa pilihan bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk memenuhi kebutuhan akan pendidikan. Mengingat bahwa anak-anak berkebutuhan khusus memerlukan pendekatan dan metode khusus sesuai dengan latar-belakang keterbatasannya. Macam-macam layanan pendidikan tersebut terdiri dari sistem segregasi dalam bentuk sekolah luar biasa, sistem integrasi serta sistem inklusif.

Dalam sistem pendidikan segregasi anak penyandang cacat dilihat dari aspek karakteristik kecacatannya (labeling), sehingga setiap kecacatan harus diberikan layanan pendidikan yang khusus yang berbeda dari kecacatan lainnya (dalam prakteknya terdapat sekolah khusus/ Sekolah Luar Biasa untuk anak tunanetra (SLB-A), tunarungu (SLB-B) , tunagrahita (SLB-C), tunadaksa (SLB-D) dan tunalaras (SLB-E).

Sistem pendidikan intergasi adalah layanan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang disatukan dengan anak-anak biasa di sekolah regular. Layanan pendidikan ini berlaku apabila anak-anak berkebutuhan khusus mampu diterima di lingkungan sosial dan dapat menerima semua ketentuan yang telah ditetapkan untuk anak-anak biasa.

Sementara layanan pendidikan inklusif tercermin dalam bentuk sekolah reguler yang mengkoordinasi dan mengintegrasikan siswa umum dan siswa berkebutuhan khusus dalam program yang sama.

Tentu dari ketiga layanan pendidikan tersebut memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing namun disini yang menjadi perhatian penulis adalah terkait sistem pendidikan inklusif. Dalam sebuah konferensi yang diadakan oleh UNESCO tahun 1994 yang menyebutkan bahwa “Pendidikan inklusif mempunyai arti bahwa sekolah harus mengakomodasi semua anak tanpa mempedulikan keadaan fisik, intelektual, sosial, emosi, bahasa, atau kondisi-kondisi lain, termsuk anak-anak penyandang cacat anak-anak berbakat (gifted children), pekerja anak dan anak jalanan, anak di daerah terpencil, anak-anak dari kelompok etnik dan bahasa minoritas dan anak-anak serta anak-anak yang tidak beruntung dan terpinggirkan dari kelompok masyarakat”.

Pendidikan inklusif dinilai menjadi model layanan pendidikan yang layak untuk mengakomodasi anak-anak berkebutuhan khusus agar mendapat penyetaraan dan mudah diterima di lingkungan sosial. Hal ini diupayakan dengan memberlakukan kurikulum bagi anak-anak regular kepada anak-anak berkebutuhan khusus.

Padahal belum ada instrumen atau alat ukur yang dinilai mampu menyatakan kesiapan anak-anak bekebutuhan khusus untuk terjun ke lingkungan sosial yang lebih ekstrem sehingga layanan pendidikan ini terkesan sebagai bahan eksperimen, menunjukkan betapa sistem pendidikan inklusi belum benar – benar dipersiapkan dengan baik.

Masihperlu banyak pembanahan baik dari segi kurikulum maupun kemampuan dan keterampilan bagi tenaga pengajar dalam mengatasi berbagai hambatan-hambatan belajar anak-anak berkebutuhan khusus, karena peran tenaga pengajar atau guru tidak hanya sebagai fasilitator yang hanya mampu mentransfer ilmu kepada peserta didiknya namun lebih dari itu juga berperan sebagai psikolog, terapis, dokter, nutrisionis dan lain-lain sebagainya. Multiperan inilah yang seharusnya disadari oleh para guru, karena bekerja pada dunia yang begitu dekat dengan kondisi keterbatasan. Spesial is Wonderful.

Selain itu peran orang tua pun patut menjadi perhatian dalam memilih layanan pendidikan bagi anak-anak dengan kondisi berkebutuhan khusus karena tidak semua orang tua faham dan mau menerima kenyataan bahwa ternyata anak-anaknya belum mampu untuk dihadirkan ditengah lingkungan sosial yang heterogen. Para orangtua kadang terlalu terburu-buru untuk memasukkan anak-anak dengan kondisi berkebutuhan khusus ke sekolah regular dikarenakan rasa pesimis karena tidak ada perkembangan yang signifikan di lingkungan pendidikan luar biasa, terjadi misspreception antara kemampuan anak-anak berkebutuhan khusus yang sudah bisa diberikan layanan sekolah inklusif dan yang belum. Untuk itu perlu pendampingan ahli bagi orangtua agar dapat memantau dan mengawal setiap perkembangan anak-anaknya dengan kondisi berkebutuhan khusus
(Penulis : Deni Umi Rahmawati, seorang mahasiswi, analis laboratorium, guru serta terapis anak-anak berkebutuhan khusus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here