Kontemplasi: Harga dari sebuah APATISME

0
73

Oleh : Farel Vierzhen

Akankah aku, engkau, dan kita semua akan membiarkan begitu saja apa saja yang pernah kita perjuangkan dahulu atau beberapa waktu yang lalu menjadi tak ubahnya sebuah ke-sia-sia-an nilai – nilai?!

Apakah akan dibiarkan saja mereka – mereka yang telah menjadi bagian dari kapal ini berlalu begitu saja memasuki entitas spirit semu, namun tak lebih dari sekadar keledai dungu yang gemar menciumi tangan senior-nya tatkala bersua dimanapun dan kapanpun?! Layak-lah disebut pula kerbau bodoh yang mau – mau saja digiring kesana – kemari lalu diajak berdemonstrasi sekadar peramai massa?! Dan ketika kita biarkan hal itu terjadi, maka kita pun sepakat dan mendukung apa yang namanya feodalisme yang  merupakan anak kandung dari imperialisme!

Apakah akan dibiarkan saja bocah – bocah tak berdosa itu memasuki pusaran euphoria kebanggaan nan lebay atas nama keberhasilan para seniornya yang berhasil duduk manis di posisi strategis di negeri ini? Saat kita biarkan berlalu, maka kita pun telah sepakat pada sebuah kata bernama “keangkuhan”! Tentu kita semua tahu, kata yang kuberi tanda kutip itu adalah juga penyebab makhuq yang pernah menjadi Imam para Malaikat dan pernah berstatus “Al Muqarrabuun” hingga tak ada satu jengkal pun tempat di muka bumi ini yang luput darinya dalam bertasbih pada Sang Khaliq—kemudian menjelma menjadi “yang terkutuk”. Keangkuhan itulah yang kemudian menyebabkan dirinya ter-usir dari Syurga.

Apakah akan kita biarkan pula talenta – talenta segar nan menggugah itu menjadi bagian dari agenda tersembunyi sebuah grand design yang menjadikan mereka terlalu dini menjadi martir – martir politik praktis reguler-permanen?! Menjadi bagian dari politik praktis adalah pilihan merdeka setiap warga Negara, tetapi apa tidak sayang jika mereka dicomot dan berlalu begitu saja setelah dengan susah-payah kita produksi selama ini?! Kita sudah menanam, memupuk, memelihara meskipun tak maksimal, tetapi dipetik begitu saja dengan mudahnya oleh orang lain!

Apakah akan kita biarkan saja mereka – mereka itu memasuki kapal – kapal yang lain dan tidak lagi bersama kita berlayar menuju dreamland?! Ingat-kah kita bahwa mereka – mereka itulah yang akan mengantikan peran dan fungsi kita semua di kapal ini?!

Dari kejauhan kulihat, kudengar, dan kurasa beberapa kapal besar itu telah sejak lama menurunkan jangkar kapalnya dan sangat siap menjemput mereka – mereka yang tengah kebingungan dalam memilih kapal mana yang akan mengantarkan mereka menuju dreamland. Sementara, kapal kita masih terombang – ambing di lautan ketenangan di tengah samudera ketidak-tentuan.

Kapankah kita menurunkan jangkar kapal dan mulai menjemput mereka – mereka?! Aku tak tahu. Sebab, ku sendiri tak lebih hanyalah seorang Navigator yang juga menanti instruksi bersama para ABK (Anak Buah Kapal) lainnya dari Sang Nahkoda.

Ini adalah secuil dari sekian banyak corak keprihatinan yang kulakukan, dimana aku sendiri sempat menjadi Nahkoda Kapal ini meski hanya separuh waktu. Sepanjang keberadaanku di kapal, cukup bagiku menyaksikan tidak sedikit ABK senior, ABK leting, dan ABK junior yang pindah kapal menjadi ABK kapal lain. Menyeberang, melompat, pindah, atau apapun bahasanya adalah hak mereka dan tentu saja kesalahan para awak kapal terutama mantan – mantan nahkoda. Tetapi aku sangat menyayangkan tatkala mereka – mereka yang dahulu berada di kapal dan sekarang di kapal – kapal lain, telah menjelma menjadi Si Feodal, Si Angkuh, dan Si Kacang yg lupa pada kulitnya.

Si Feodal yang “sendiko dawuh” pada para senior dan menyuburkan feodalisme ke junior. Si Angkuh yang tak lagi melihat di sekelilingnya dan terus saja berjalan meski banyak sekali orang memanggil dan membutuhkannya. Dan Si Kacang yang tak malu – malu mengatakan bahwa mereka tidak pernah menjadi bagian penting dari kapal ini.

Bukankah saat ini kapal tak lagi memiliki “ABK nakal” yang “hobi melubangi kapal”, dan dengan sangat terpaksa pernah ada yang kulempar ke tengah lautan. Beberapa di antaranya telah memutuskan pensiun dini karena takut berlayar, lalu menjelma menjadi pengecut yang mencari selamat dirinya sendiri atas nama kabut ketakutan yang membungkus diirinya. Tak jarang ada juga yang menghempaskan tubuhnya sendiri ke tengah samudera yang dipenuhi ikan piranha pemangsa daging busuk.

Terkadang aku tergelitik dan bertanya pada alam yang lirih, kapankah gelombang apatisme ini berakhir?! Sebab ketika kita tidak pernah memutus mata rantai apatisme, maka dimasa yang akan datang kita akan berulang kali “membimbing” Nahkoda yang baru, lagi dan lagi.

[1] Penulis adalah  putra asli Pesisir Barat-Lampung, mantan Kabid Kader PW PII Lampung dan Fungsionaris PB PII Periode 2006 – 2008.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here