Segala Puji bagi Alloh SWT yang memberikan nikmat iman dan Islam. Sholawat serta salam kepada junjungan Nabi Muhammad yang telah mengajarkan umat Islam dan membimbing dari jalan gelap menuju jalan terang.

Saat ini anak-anak menghadapi banyak tantangan yang berasal dari lingkungan dan budaya luar yang sangat kuat. Tantangan hadir dalam bentuk teknologi, media informasi, dan interaksi sosial masyarakat yang majemuk. Bahkan mereka saat ini sudah bisa dikatakan sebagai Generasi Digital/Native Digital, yaitu satu generasi yang sudah mengenal digital sejak lahir.

Dengan kondisi seperti itu anak-anak dengan umur 6-12 tahun itu harus dilakukan supervisi (pengawasan) dari orang tua. Langkah pertama yang perlu diambil adalah adanya kesepakatan bersama oleh semua pihak dengan mendiskusikan sikap-sikapnya di era tersebut, seperti memanfaatkan program atau video yang bisa menstimulus imajinasi. Juga mendiskusi tentang peran laki-laki dan perempuan, seperti bagaimana menghindari tayangan media yang menampilkan agresivitas, antisosial, dan perilaku negatif lainnya.

Menurut Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan dalam bukunya Pendidikan Anak dalam Islam, ada beberapa aspek tanggung jawab pendidikan yang perlu di berikan kepada anak. Beberapa aspek tersebut antara lain adalah, pertama tanggung jawab pendidikan iman, kedua tanggung jawab pendidikan kejiwaan, ketiga tanggung jawab pendidikan fisik, keempat tanggung jawab pendidikan akal.

Aspek tanggung jawab pendidikan iman adalah membuka kehidupan anak dengan kalimat tauhid La ilahaillah.. Aspek menekankan bahwa dari lahir seorang anak harus di perkenalkan dan di latih untuk selalu mengingat lafal tauhid tersebut. Kemudian, memberikan pemahaman tentang perintah ibadah saat umurnya beranjak tujuh tahun. Dalam hadist Al-Hakim dan Abu Dawud dari hadist Ibnu Amru bin Al-Ash bahwa Rasullullah bersabda:

“Perintahkan anak-anak kamu melaksanakan sholat pada usia tujuh tahun, dan disaat mereka telah beranjak sepuluh tahun pukullah mereka jika tidak melaksanakannya, dan pisahkanlah tempat tidurnya”

Di qiyaskannya perintah sholat, maka hendaknya membiasakan ibadah lain yang kemudian dirasa anak mampu melakukannya, contoh puasa. Kegiatan seperti MABIT bisa menjadi sebuah media agar anak bisa belajar mandiri dan mulai merasakan terpisah tidur bersama orang tua.

Aspek kedua adalah tanggung jawab pendidikan kejiwaan anak. Aspek ini terfokus pada pendidikan tentang pembentukan kemuliaan kejiwaan anak dan akhlak seorang anak. Perkara pertama adalah bagaimana mengajari seorang anak untuk bisa mengatasi sebuah perasaan minder atau kurang percaya diri. Perasaan ini sering muncul dikarenakan faktor pengaruh yang cukup besar adalah faktor keturunan, dan faktor lingkungan yang membentuk rasa percaya diri seorang anak. Solusi yang paling baik adalah membiasakan diri seorang anak untuk bisa bergaul dengan orang lain.

Kemudian faktor lain adalah mengajari anak untuk bisa menghadapi rasa takut. Faktor rasa takut ini bisa di hadapi dengan memberikan pelajaran dengan memperhatikan beberapa perkara berikut: pertama, menumbuhkan keimanan kepada Alloh SWT, menumbuhkan rasa berserah diri hanya kepada Alloh. Kedua, memberikan kebebasan bertindak kepada anak, membiasakannya untuk memikul tanggung jawab sesuai kemampuannya. Ketiga, tidak menakut-nakuti anak dengan perkara ghoib, misal takut hantu, jin, setan. Seorang anak harus di tanamkan dalam diri untuk meyakini bahwa Alloh sebaik-baiknya tempat berlindung dan penolong.

Aspek ketiga adalah tanggung jawab pendidikan fisik. Apek kesehatan fisik lebih banyak memahamkan kepada anak untuk bisa mengerti dan menjalankan aturan-aturan kesehatan dalam makan dan minum, membentengi diri dari penyakit menular, mengobati penyakit, dan menerapkan prinsip tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain. Semua hal tersebut berkaitan dengan adab anak terhadap diri nya sendiri dalam berinteraksi dengan cara hidupnya, dan berinteraksi dengan lingkungan.

Aspek keempat adalah tanggung jawab pendidikan akal. Pada aspek ini para pendidik diminta untuk bisa memberikan pengetahuan semenjak kecil terhadap hakikat-hakikat berikut ini:

  1. Keabadian Islam dan relevansinya sepanjang ruang dan waktu.
  2. Para pendahulu Islam bisa meraih kemuliaan, kekuatan, dan peradaban dikarenakan ketinggian agama Islam dan ditetapkannya sebagai undang-undang dan syariat.
  3. Memberikan suatu pemantik untuk anak agar bisa memahami tantangan-tantangan yang di buat oleh musuh-musuh Islam. Misal: tantangan informasi media yang bisa menjadikan contoh buruk bagi anak. Media tersebut bisa dari TV, Media Sosial, dan pergaulan lingkungan.

Untuk itu, kewajiban seorang pendidik adalah menjauhkan anak-anak dari pergaulan bebas dalam pengajaran dan di luar aktivitas belajar. Supaya anak bisa tumbuh dewasa dalam kemuliaan dan kehormatan.

Mengutip ungkapan indah dari muslimah bernama Aisyah At-Taimuriyyah dalam menjaga kehormatan dan hijabnya:

Dengan tangan kehormatan
Aku jaga kemuliaan hijabku
Dan dengan semangatku
Aku melejit melebihi pesaingku
Indahnya moralku
Dan bagusnya ilmuku
Hal tersebut dikarenakan aku
Sebagai bunga pengetahuan
Perasaan Maluku
Tidak menghalangiku mencapai ketinggian
Tidak pula hijabku dan kain yang menutup rambut dan dadaku

Daftar Pustaka

‘Ulwan, Dr. Abdullah Nashih. (2012). Pendidikan Anak dalam Islam, (terj. Arif Rahman Hakim, Lc, Abdul Halim, Lc). Solo: Insan Kamil.

Dr.Sukiman, Seri Pendidikan Anak: Mendidik Anak di Era Digital, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 2016, hlm. 10.

 

Penulis: Afif Muchrom, seorang pendidik. Mantan Ketua Umum PW PII Lampung 2007-2009, Kabid Kaderisasi PB PII 2012-2015

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here