Pengurus Wilayah

Pelajar Islam Indonesia

Jakarta 2017-2019

FGD Poros Pelajar PII Jakarta

JAKARTA – Bidang Eksternal Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Jakarta menggelar Focus Group Discussion pada tanggal 09 Februari 2018 di SMK Said Naum Jakarta dengan tema “Peran Organisasi Dalam Proses Pendidikan dan Pengawasan Terhadap Anak di DKI Jakarta”, Hafidzoh sebagai Kepala Bidang Eksternal PW PII Jakarta menyampaikan dalam sambutannya bahwa forum ini digelar untuk menanggapi dan mencari solusi terkait permasalahan kejahatan yang masih kerap dilakukan oleh anak, juga dalam rangka mensinergitaskan setiap lapisan yang bertanggung jawab atas hal itu yakni Pemerintah, Guru atau Orang tua, Organisasi atau Masyarakat. Ia menambahkan bahwa PII, IPM, IPNU, dan HIMA PERSIS adalah poros-poros Pelajar dimanapun berada.

Dalam forum itu telah diundang dan hadir lima Narasumber-narasumber terkait yaitu dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta Waluyo Hadi, Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Dr. Didi Supriyadi, Ketua Umum Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Jakarta Yusuf Salam, Ketua Umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PW IPNU) Jakarta Muhammad Muhadzam, Sekretaris Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Jakarta M.Wahyu, Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (HIMA PERSIS) Jakarta Zein Abdurrahim.

Pada kesempatan itu Dinas Pendidikan menyampaikan bahwasanya Pemerintah DKI sudah semaksimal mungkin dalam mengatasi permasalahan kejahatan yang dilakukan anak sesuai dengan Permendikbud No. 82 tahun 2015. “Kami sudah tegas, apabila ada peserta didik yang melakukan kejahatan maka kami akan memberi sanksi pengeluaran dan pelarangan untuk sekolah di Sekolah Negeri yang ada di DKI Jakarta. Dan itu terbukti efektif dengan menurunnya sangat drastis jumlah kejahatan yang dilakukan oleh anak di DKI Jakarta.

Kemudian Dr. Didi Supriyadi dari PB PGRI menanggapi bahwa kekerasan yang kerap sekali terjadi yang dilakukan oleh anak dengan mengambil sample kasus MH yang membunuh Guru Honorer Budi di Sampang Jawa Timur.  “Itu akibat adanya pendisiplinan otoriter dari guru, emosional guru tidak stabil, namun bukan maksud menyalahkan guru, guru seperti itu karena guru itu “lapar”, mereka tidak disejahterakan, masih banyak guru yang tidak sejahtera”, selama ini Pemerintah hanya mengatasi masalah permukaaannya saja, tidak sampai akar rumputnya. Dan lanjut kemudian Dr. Didi Supriyadi menegur sekaligus menghimbau kepada Dinas Pendidikan DKI Jakarta agar tidak menutupi Jalan Organisasi Eksternal untuk masuk sekolah-sekolah, jangan mencurigai mereka, justru mereka adalah bagian solusi juga dalam proses pendidikan dan pengawasan terhadap anak.

Narasumber dari Poros Pelajar Jakarta (PII, IPNU, IPM, dan HIMA PERSIS) mengapresiasi apa yang telah disampaikan oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta, juga mengucapkan turut berbahagia hati apabila memang angka kejahatan yang dilakukan oleh anak di DKI Jakarta itu sudah menurun drastis. Muhadzam dari IPNU Jakarta menambahkan bahwa pengawasan anak itu tidak cukup di Sekolah, masih banyak kejahatan oleh anak yang dilakukan ketika ia tidak sedang berseragam sekolah, ia menghimbau agar pihak pemerintah untuk selalu melibatkan organisasi untuk berdiskusi terkait persoalan anak atau pelajar ini.

Selanjutnya Yusuf Salam Narasumber dari PII Jakarta menambahkan bahwa tidak bisa pungkiri dalam proses pendidikan dan pengawasan terhadap anak itu memerlukan sinergitas antara pemerintah dan organisasi atau masyarakat, pemerintah harus sering mengajak organisasi atau masyarakat untuk duduk bersama memberikan pandangan, bertukar informasi terkait permasalahan dan pembuatan kebijakan. Kemudian dalam menanggapi issue kejahatan yang dilakukan oleh anak Yusuf Salam mengatakan bahwa anak tidak bisa disalahkan sepenuhnya, ada banyak faktor yang mempengaruhi kenapa si anak bisa menjadi seperti itu, yang patut dipertanyakan pertama kali adalah bagaimana proses pendidikan dan pengawasan anak ketika di rumah sebagai lingkar pendidikan pertama, proses pendidikan dan pengawasan anak ketika di sekolah sebagai lingkar pendidikan ke dua, dan yang paling menghawatirkan bagaimana proses pendidikan dan pengawasan anak ketika di luar sekolah atau rumah atau lingkungan sosial, pada faktanya di lapangan masih banyak sekali pelanggaran moral atau hukum yang dilakukan oleh anak, lingkungan sosial itu lebih berbahaya dan liar. Disitulah seharusnya peran Organisasi, yaitu saat anak berada di luar Rumah dan Sekolah, Organisasi sebagai Pendidikan Lingkar Tiga, sehingga anak tidak pernah lepas dari proses pendidikan dan pengawasan sekalipun ia sedang berada di luar Rumah dan Sekolah.

Selanjutnya Muhamad Zein Narasumber dari HIMA PERSIS  Jakarta mengatakan bahwa kejahatan yang dilakukan oleh anak di Jakarta ini karena pemerintah masih abai terhadap pendidikan spiritual terhadap anak, pemerintah saat ini hanya fokus pada pengkapasitasan intelektual saja, tapi lupa dengan spiritual, padahal itu sangat penting dalam penjagaan nilai diri si anak itu. Jangan sampai si anak terbentuk menjadi anak yang berotak pintar tetapi bermoral penjahat. Menurut Mumamad Zein inti persolan ini adalah karena masih abainya terhadap pendidikan spiritual bagi anak.

Terakhir M. Wahyu dari Narasumber IPM Jakarta melengkapi Bahwa betul adanya apa-apa yang disampaikan barusan, kami sebagai  Oraganisasi Pelajar terus berupaya dengan gigih dalam mencerdaskan dan melindungi anak bangsa, dan seyogyanya Pemerintah harus memberikan ruang selebar-lebarnya bagi organisasi, sehingga sinergitas ini akan menjadi solusi yang lebih efektif dan efisien bagi permasalahan Pendidikan di Jakarta.

 

Hafidzoh

WA(0857-1154-6619) No. Telp 0813-8214-1696

Kepala Bidang Eksternal (Komunikasi Ummat)

Pengurus Wilayah

Pelajar Islam Indonesia

Jakarta 2017-2019

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here