Memahami Lingkungan Ramah Anak

0
73

Telah banyak berita tentang permasalahan anak di Indonesia . Tulisan sederhana ini merupakan bentuk usaha turut andil dalam memberikan manfaat untuk kebaikan generasi bangsa .  Kami memulai tulisan ini dari mengenali anak. Definisi anak dari segi budaya atau fungsional adalah manusia dalam rentang usia 0-12 tahun.

Sementara itu dalam perundang-undangan Indonesia, manusia berumur 18 tahun baru dianggap dewasa. Sebutan anak sendiri menunjukkan masa perkembangan manusia dalam kelompok masyarakat dengan kebutuhan khusus. Jika spesifik memandang usia anak adalah dalam rentang 0-12 tahun, maka secara bertahap anak membutuhkan makan, minum, kasih sayang, hubungan bermakna (sosialisasi), eksplorasi kemampuan berfikir sampai merasakan. Hal ini dipenuhi dengan pendampingan dikarenakan belum sempurna (red. lemah) kemampuan pada anak.

Distabilitas Kondisi Anak Indonesia

Kebutuhan, bermakna sesuatu yang sangat diperlukan. Akan terjadi distabilitas jika kebutuhan sebagai hal yang pokok tidak dipenuhi secara sadar oleh seluruh masyarakat.

Perilakuabai terhadap anak, eksploitasi anak, pukulan dan ancaman yang tidak ditempatkan pada kondisi yang tepat, sampai kasus pelecehan seksual semua ituakan sangat mengganggu perkembangan fisik dan psikis anak.

Oleh karenanya wajar tumbuhlah generasi yang hilang nilai-nilai akhlak mulia di dalam kediriannya. Daftar panjang “pekerjaan rumah” bangsa Indonesia dalam pendidikan anak sudah sepatutnya diselesaikan bersama. Bahwa anak hari ini harapan masa depan. Sebagaimana tunas tumbuhan muda yang baru muncul, merawati seutama-utama yang harus dilakukan.

Memahami Lingkungan Ramah Anak

Tempat ibadah, sarana pendidikan, pelayanan kesehatan, arena kegiatan anak, kendaraan angkutan umum, tempat kerja merupakan tempat-tempat umum yang perluperlu men perhatian khusus supaya lebih ramah terhadap anak. Pertama, fasilitas memadai. Sebagai contoh adanya ruang terbuka hijau dengan kids playground. Kedua, peraturan mengikat dan terkontrol secara baik terhadap segala bentuk antisipatory guidance (petunjuk antisipasi) pada anak.

Kontrol lingkungan, pendidikan keamanan dan potensi bahaya pada anak, bagian dari pencegahan kecelakaan. Adapun bentuknya dapat berupa keamanan pada anak saat ikut berkendaraan dengan orang tua, atau besepeda, kehati-hatian dalam bermain, dan lainnya. Ketiga, masyarakat berkomunikasi aktif dan positif (bukan responsif) terhadap anak baik verbal maupun non-verbal. Komunikasi dapat membangun aspek psikis pada anak menjadi pribadi yang lebih bijaksana.

 

Penulis: Nurul Huda Zaen. Seorang pendidik, beraktifitas sebagai guru di Pesantren Adab dan Ilmu Depok, aktif sebagai aktifis Koorpus PII Wati dengan jabatan KaDiv Kursus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here