Prebiotik, Probiotik dan Dilema Antibiotik Abad ke-21

0
40

Kemajuan teknologi bidang kesehatan yang berkembang pesat memicu munculnya penyakit yang semakin variatif. baik yang sifatnya degeneratif (turunan) maupun penyakit infeksi. Hal ini sinergis dengan adanya produksi obat-obatan skala makro yang digunakan sebagai terapi untuk menekan laju pertumbuhan penyakit tersebut. Industri farmasi dengan segala riset yang telah dilakukan selalu mengupayakan ketersediaan stok obat-obatan yang terus diperbarui agar penyakit-penyakit tersebut dapat segera teratasi, mengingat bahwa masalah kesehatan adalah menyangkut hajat hidup orang banyak.

Salah satu obat untuk menekan laju pertumbuhan penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen adalah antibiotik atau anti mikroba. Penggunaan antibiotik yang cukup tinggi dan tidak rasional dinilai mampu menimbulkan masalah baru di masyarakat diantaranya terkait resistensi mikroba dan distribusinya secara bebas di tempat-tempat pelayanan umum yang menyediakan obat antibiotik tersebut seperti apotek, klinik, minimarket, warung dan lain-lain. Padahal menurut Permenkes RI No 919/Menkes/Per/X/1993 antibiotik sudah tidak diperbolehkan lagi dijual secara bebas dalam artian harus menggunakan resep dokter karena tergolong obat keras. Selain itu menurut data Riskesdas tahun 2013 menunjukkan bahwa proporsi rumah tangga yang menyimpan obat untuk swamedikasi (pengobatan sendiri) persentasenya 27,8 persen terdiri dari antibiotik.

Antibiotik sebagai obat anti mikroba dapat berfungsi secara efektif apabila digunakan secara baik dan benar. Namun sebaliknya dapat mengalami penurunan fungsi dan berdampak merugikan bagi tubuh apabila penggunaannya secara berlebihan dan tidak rasional. Kerugian-kerugian tersebut diantaranya efek samping dan reaksi toksik yang ditimbulkan, reaksi hipersensitifitas yang dapat diinduksi apabila pemakaian berulang, berkurangnya jumlah flora normal di dalam tubuh sehingga memicu terjadinya superinfeksi karena adanya flora resisten yang lebih berbahaya, faktor lingkungan berupa diet dan pemberian terapi lain yang sejajar atau bersama-sama pemakaiannya dengan terapi antibiotik dan lain sebagainya.
Namun dewasa ini penggunaan antibiotik dinilai menimbulkan banyak kerugian terkait adanya efek resistensi bagi pasien sehingga kerja antibiotik di dalam tubuh mengalami pergeseran fungsi, antibiotik hanya sekedar untuk menghilangkan gejala umum tetapi tidak mampu memusnahkan mikroorganisme yang potensial menimbulkan penyakit infeksi baik menular ataupun tidak menular. Lantas bagaimana sebaiknya untuk menanggulangi permasalahan ini ?

Pada tahun 2007 awal mula sebuah penelitian menjelaskan bahwa terdapat cukup bukti peran prebiotik suplementasi susu formula dalam mencegah penyakit alergi dan hipersensitifitas terhadap makanan. Suplementasi dengan bahan-bahan yang memiliki potensi untuk meningkatkan jumlah bifidobacteria dalam tinja dan mengurangi beberapa bakteri patogen. Selain itu juga dapat mengurangi pH feses, meningkatkan konsentrasi fekal SCFA. Dengan efek utamanya adalah menstimulasi secara selektif pertumbuhan bifidobacteria dan lactobacilli dalam usus sehingga meningkatkan daya tahan tubuh terhadap mikroorganisme patogen.

Prebiotik merupakan zat makanan yang memelihara mikroorganisme yang hidup dalam usus dan secara selektif merangsang pertumbuhan yang menguntungkan atau merangsang kegiatan dari sejumlah bakteri dalam tubuh. Prebiotik sebagian besar digunakan dalam bahan makanan, seperti pada biskuit, sereal, coklat, dan produk-produk susu. Salah satu produk prebiotik yang dikenal adalah laktulosa adalah disakarida sintetis yang digunakan sebagai obat untuk pengobatan sembelit dan ensefalopati hati. Selain itu oligofructose, jenis prebiotik yang ditemukan secara alami di banyak makanan, seperti gandum, bawang, pisang, madu, bawang putih, dan daun bawang. Oligofructose juga dapat diisolasi dari akar chicory atau disintesis secara enzimatik dari sukrosa.
Fermentasi oligofructose dalam usus besar akan menghasilkan efek fisiologis diantaranya peningkatan bifidobacteria kolon, salah satu bakteri normal flora yang habitatanya di usus besar. Peningkatan bakteri ini dianggap bermanfaat bagi kesehatan manusia dengan memproduksi senyawa untuk menghambat patogen potensial, dengan mengurangi kadar amonia, dan dengan memproduksi vitamin dan enzim pencernaan.

Masih dalam sebuah hipotesa bahwa efek prebiotik dalam penyakit pediatrik dapat menstimulasi sistim imun sehingga dapat mengurangi resiko terkena penyakit infeksi pada anak. Prebiotik juga dapat mengubah dan memodifikasi makanan flora normal intestinal (usus) yang dapat berefek menjadi pencegahan terhadap inflamasi (peradangan) kulit.

Penelitian in vitro dan in vivo menunjukkan bahwa prebiotik tidak dicerna oleh ensim, tetapi difermentasi oleh bakteri anerob dalam usus besar. Melalui fermentasi dalam usus besar, karbohidrat prebiotik menghasilkan asam lemak rantai pendek (small chain fatty acid/SCFA), menstimulasi pertumbuhan berbagai bakteri termasuk lactobacilli dan bifidobacteria dan dapat menghasilkan gas. Seperti karbohidrat terfermentasi lain, prebiotik mempunyai efek laksatif (cuci perut), tetapi sulit dibuktikan karena efeknya jarang sekali dilaporkan secara klinis. Secara potensial efek utama karbohidrat prebiotik adalah untuk meningkatkan daya tahan tubuh usus terhadap mikroorganisme patogen sehingga mengurangi kekerapan diare yang dialami seseorang. Namun efek tersebut belum berhasil dibuktikan secara meyakinkan pada orang dewasa dan anak-anak.

Kanker usus besar adalah kondisi patologis lain yang memerlukan peran mikrobiota usus telah dihipotesiskan. Sejumlah penelitian eksperimental pada tikus putih (mencit) dan telah dilaporkan pengurangan dalam insiden tumor dan kanker setelah makan produk/bahan makanan tertentu/suplemen yang mengandung efek prebiotik. Beberapa riset ini ( termasuk pada percobaan manusia) juga dilaporkan bahwa dalam kondisi seperti itu, komposisi mikrobiota usus diubah terutama karena bertambahnya konsentrasi bifidobacteria , namun peran perubahan tersebut dalam efek anti kanker akhirnya masih meninggalkan produk / bahan suplemen makanan tertentu hasil metabolisme bakteri yang masih harus dibuktikan.

Selanjutnya, probiotik adalah mikroorganisme hidup yang bila diberikan dalam jumlah yang memadai, memberikan manfaat kesehatan pada host (sel inang yang ditumpanginya). Produk-produk probiotik yang familiar di masyarakat diantaranya adalah produk susu fermentasi oleh bakteri asam laktat seperti yogurt, yakult, kefir, dadih.

Keuntungan penggunaan probiotik diantaranya adalah terbentuknya mekanisme yang multipel yaitu dapat berfungsi sebagai stimultan dalam sistem imunitas dan mukosa usus, mampu memproduksi substansi antibakteri serta berperan dalam pengaturan enzim intestinal dan interaksi dengan sistem saraf enterik, selain itu sebagai pengantar in situ, aman untuk pasien dengan populasi yang berbeda, keberagaman potensial organisme, pertahanan tubuh alami pada penderita AIDS, tidak ada interaksi dengan obat, didapat dengan mudah, dan tidak mahal.

Namun dilain pihak penggunaaan produk probiotik sebagai terapi masih memiliki keterbatasan diantaranya : masih belum adanya kesepakatan dosis efektif dari probiotik, masih banyak probiotik yang menggunakan dosis tinggi setiap hari. Kelemahan lainnya adalah dosis yang ditemukan efektif pada salah satu mikroorganisme belum tentu efektif untuk mikroorganisme yang lain. Selain itu kurangnya kontrol kualitas produk, beberapa produk probiotik yang dibuat oleh perusahaan farmasi memiliki kualitas protokol dan standar yang terkontrol. Akan tetapi adapula produk probiotik yang tidak terkontrol. Akibatnya beberapa produk probiotik mengandung strain/mikroorganisme dan konsentrasi spesifik pada labelnya dan ada juga tidak.

Alasan untuk penggunaan probiotik terutama didasarkan pada kemampuan inang untuk merombak mikroba yang menginfeksi, dengan demikian meningkatkan pertumbuhan bakteri komensal yang ada pada kolon untuk menekan bakteri patogen. Sementara prebiotik berperan sebagai suplemen yang mendukung pertumbuhan bakteri komensal tersebut.

Namun penggunaan produk prebiotik dan probiotik sebagai terapi pengganti antibiotik masih memerlukan penelitian lanjutan. Mengingat bahwa pada produk prebiotik yang dikomersilkan sebatas meniru efek alamiah prebiotik yang ada didalam tubuh manusia tentunya masih memiliki banyak keterbatasan. Selain itu baik prebiotik maupun probiotik yang dikembangkan lebih untuk mengatasi timbulnya penyakit infeksi akibat gangguan saluran cerna, dosis pemakaiannya pun masih harus dikontrol. Penggunaan pada pasien dengan riwayat imunokompromais tidak berfungsi efektif.

Bahan dasar produk ini adalah mikroba sehingga hanya mampu berperan secara parsial dalam memberikan efek pengobatan dalam arti tidak bisa dibarengi dengan terapi yang lain karena beberapa mikroba ada yang bersifat antagonis terhadap antifungi, antivirus maupun antibiotik. Dan apabila akan diproduksi secara massal dengan label tertentu masih memerlukan pengujian kualitas dan standarisasi yang terkontrol dan terukur untuk memeperjelas spesifitas dan sensitivitas produk tersebut dalam bekerja mengatasi timbulnya penyakit infeksi atau kondisi patologis lain.

Writer : Deni Umi Rahmawati, seorang mahasiswi, analis laboratorium dan guru serta terapis anak-anak berkebutuhan khusus. Mantan fungsionaris PW PII Lampung Periode 2015-2017.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here