Sinopsis Buku Siyasah Kebangsaan

0
85

Judul buku                  : Siyasah Kebangsaan (Anilisis Siklus Seratus Tahun Bangsa Indonesia 1928 – 2028 dalam Perspektif Pemikiran imam Al- Ghazali dan ibnu Khaldun)

Penulis                         : Randi Muchariman dan Helmi Al Djufri

Penerbit                       : Penulis Muda

Tebal halaman             : xxv + 258

Tahun terbit                 : Agustus 2016

Kenapa Indonesia harus menjadi bangsa Islam? Pertanyaan tersebut diajuakan oleh penulis secara berani dalam buku ini. Tentu saja itu bukan pertanyaan retoris yang tidak disiapkan jawabannya oleh dua penulis muda ini; Randi muchariman dan Helmi Al Djufri. Proses penemuan jawaban dari pertanyaan tersebut diurai secara terperinci melalui pisau analisa pemikiran Imam Al-Ghazali dan Ibnu Khaldun. Penulis menggagas makna bangsa, nasionalisme, modernisme dari Era Rosulullah SAW, kejayaan eropa, masa kesultanan Islam di nusantara lahirnya pancasila dengan menjelaskan terlebih dahulu kelemahan cara pandang sekuler barat (seculerism world view) yang selalu dijadikan kiblat bangsa indonesia oleh sebagian orang. Melalui penjelasan tersebut yang dapat ditemui dalam permulaan buku ini, setidaknya pembaca akan mengetahui secara mendasar makna Pancasila yang selama ini dijadikan sebagai landasan ideologi Indonesia, serta Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara republik Indonesia 1945 (UUD’45). Bagian tersebut berisi penjelasan yang bukan bermaksud untuk membangun perdebatan apakah Pancasila diterima sebagai dasar negara indonesia atau tidak, namun Buku Siyasah Kebangsaan hendak menjelaskan bahwa siyasah merupakan satu konsep penting agar Pancasila dan Pembukaan (Preambaule) UUD 45 bisa terlaksana sebagaimana maksud yang dikandung didalamnya. Penulis menekanan bahwa pembukaan UUD ’45 tidak mungkin bisa diterjemahkan secara tepat dan tuntas kecuali merujuk kepada konsep siyasah.

Setelah mengetahuai konsep siyasah dan urgensi penerapannya bagi bangsa indonesia, Gerakan pembaharuan pun dimulai. Buku ini disusun dengan usaha menuntun pembaca untuk menyetujui dan bersama-sama menjadi bagian dari pembaharuan bangsa indonesia. Hal tersebut dilakukan untuk mempersiapkan masa-masa tersulit bangsa indonesia, dimana era kemakmuran bangsa indonesia sudah mencapai puncaknya namun justru berada dalam bahaya karena hilangnya solidaritas sosial yang dahulu membawa bangsa kepada kedaulatan sebuah negara. Era tersebut akan terjadi antara tahun 2005 – 2028. Itulah tahap ke-lima sekaligus tahap terakhir dari siklus 100 tahun bangsa indonesia, dimana hidup sudah boros dan berlebihan, praktik kekeuasaan justru menghancurkan apa yang sebelumnya telah dibangun, dan sebagian pengambil kebijakan bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukaan. Pada zaman tersebut, penulis memaparkan akan lahir suatu generasi yang bukan saja terlupa, namun juga terlepas dari ikatan solidaritas sosialnya. Wacana demokrasi yang sebenarnya baru telah membuat generasi baru itu merusak dan merobohkan apa yang sebenarnya sudah dibangun oleh generasi sebelumnya. Penyebabnya, karena wacana demokrasi yang sebenarnya baru itu tidak dipahami dan justru diselenggarakan dengan cara menutup pintu bagi orang-orang yang secara jujur dan tulus hendak berbuat kebaikan. Dalam sebuah kabar yang dikutip oleh penulis, bahwa pada masa itu para penguasa sudah ibarat singa, penegak keadilannya adalah seperti anjing, dan para pembantu penguasa seperti sekumpulan serigala, serta kebanyakan orang adalah seperti domba yang digembalakan. Apabila keadaannya tetap seperti apa yang terjadi tersebut, maka sebuah bangsa berada pada kondisi yang kronis dan tidak bisa ditemukan obatnya lagi kecuali kematian. Saat itulah sejarah bangsa ini berakhir.

Lima tahapan yang dijelaskan dalam buku siyasah kebagsaan ini memperhatikan keadaan dan hal-hal terpenting yang terjadi dalam setiap tahapnya, hal tersebut memberi hikmah yang dalam yang dapat menjadi salah satu kekuatan penerapan siyasah untuk bangsa indonesia dalam rangka melahirkan generasi yang siap terhadap zamannya. Semangat pembaharuan yang digagas buku ini, tidak disusun untuk menjadi teks dan berhenti pada tingkat wacana, namun disusun untuk menjadi satu timbangan, pikiran, dan paduan bagi sebuah gerakan untuk menegakkan siyasah terhadap bangsa Indonesia hari ini dan esok. Buku ini memberikan kita pesan yang mulia dan patut untuk diperjuangkan, dimana apa yang akan kita lakukan adalah untuk mempertahankan rumah kita sendiri, membangun Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat secara konstitusional dapat dipertanggungjawabkan dan sesuai dengan kepentingan siyasah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here