Kontemplasi “MELAWAN ARUS”

0
226

Melawan arus, secara sederhana dapat dimaknai melangkah menuju arah yang berlawanan. Dalam realitas kehidupan, tentu banyak sampel tentang sosok yang melawan arus. Confucius, misalnya. Hampir dari kita semua pernah mendengar tentang sosok Confucius, bukan?! Confucius ialah seorang yang justru mencari, mendalami, dan memaknai filosofi kehidupan, tatkala hiruk-pikuk situasi peperangan pada masanya, di mana banyak generasi muda di seantero Tiongkok belajar dan mendalami seni beladiri kungfu atau sejenisnya. Confucius justru mengajarkan tentang bagaimana nilai universal dan intisari kebajikan dengan perwujudan penyatuan diri dengan alam agar selaras.

Indonesia punya stok pelawan arus yang salah satunya bersemayam pada sosok intelektual romantis bernama Soe Hok Gie, meskipun kita ketahui dari buku Catatan Harian Seorang Demonstran-nya Daniel Dhakadie atau film karya sineas muda Riri Riza. Gie, begitu sapaan akrabnya, tatkala teman-teman sesama aktivis mahasiswa banyak memilih menjadi “tikus parlemen”, Gie konsisten dengan terus menerus kritis terhadap realitas sosial-politik yang terjadi pada masanya. Ia melakukan perlawanan demi perlawanan melalui ketajaman analisis tulisannya yang justru lahir dari kamarnya yang suram bernyamuk. Tanpa ragu ia tak menghiraukan berbagai bentuk ancaman yang siap menghampirinya, sebab ketakutan hanyalah bayang-bayang keraguan yang menyelimuti pikiran yang sangat mungkin dihancurkan atau dapat pula dikonversi menjadi cambuk motivasi.

Jika seorang Gie mampu do the right thing sendirian melakukan perlawanan untuk kepentingan bangsa dan Negara, mengapa kita yang telah melalui beragam bentuk dan level pelatihan, dengan rantai hierarki institusi, sistem yang terformulasi sedemikian rupa di Pelajar Islam Indonesia (PII), dan berada di zaman yang penuh keterbukaan lengkap dengan impresi modernisasi – tidak cukup mampu dan penuh keraguan dalam berbuat banyak terhadap “tujuan” yang telah digariskan sejak lampau?!

Keyword dari hal itu terletak pada “do”, yaitu melakukan atau berbuat. Kejahatan selalu menampakkan taringnya oleh karena dilakukan dengan sungguh-sungguh. Demikian pula dengan kebaikan akan tidak menampakkan progress yang menggembirakan tatkala dilakukan dengan tidak sungguh-sungguh atau bahkan tidak dilakukan sama sekali!. Bukankah, kebatilan yang terorganisir, tentulah akan mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisir.

Dimensi “do” tersebut niscaya juga terlihat pada sosok penegak hukum; Hakim, Jaksa, Advokat, dan Polisi yang tetap konsisten pada upaya penegakan hokum. Meskipun tidak dapat dipungkiri, tak sedikit orang pada profesi dan peran yang sama boleh jadi telah sedemikian rupa secara sistematis dan terorganisir menelanjangi kewibawaan hukum.

Hal “melawan arus” sangat mungkin juga menghinggapi para lulusan Perguruan Tinggi yang kemudian memutuskan untuk memilih jalan berbeda di tengah kacaunya mindset banyak orang yang hanya mendambakan status ASN (Aparatur Sipil Negara). Pun demikian, bisa pula hadir dari politisi yang kritis terhadap berbagai kebijakan macam apapun di institusi partai politiknya, dengan tak menghiraukan kecerewetan para elit partai yang siap membungkamnya dengan segala cara.

Mungkin kita dapat memahami bagaimana kader-kader PII di setiap masanya yang memilih untuk tetap survive ketika banyak seniornya, seangkatannya, bahkan juniornya menghilang layaknya pengecut yang mencari selamat diri mereka sendiri. Kader-kader yang tetap on the track, istiqomah dalam berpikir, bersikap, dan bertindak, meskipun ruang opurtunisme terbuka dengan begitu lebarnya.

Sejalan dengan uraian di atas, seorang Senior Advokat pernah mengatakan bahwa terdapat 3 (tiga) misi dalam kehidupan ini, yaitu kejujuran, kebenaran dan keadilan. Tetapi manakah diantaranya yang paling memiliki kebermaknaan dalam kehidupan? Jawabannya ialah kejujuran. Mengapa kejujuran? Sebab kejujuran akan memandu setiap orang dalam mencari kebenaran dan menegakkan keadilan yang dengan sendirinya akan berimplikasi pada nilai-nilai kemanusian. Seseorang yang sejak dalam pikirannya jujur, akan menuntunnya pada bagaimana bersikap, berbicara dan bertindak yang jujur. Manakala kejujuran itu telah terpatri dan mendarah daging pada diri seseorang, maka ia pun akan dengan mudah mengakui kebenaran yang datang dari manapun juga, meskipun kebenaran itu datang dari individu maupun kelompok lain yang berseberangan dengannya. Tentu saja, kejujuran akan menjadi pembeda yang tajam tentang apakah arus yang dilawan itu benar atau tidak.

 The last but not least, seperti yang dikatakan Elizabeth Gilbert dalam Eat, Pray, and Love, bahwa kita harus selalu siap untuk menghadapi gelombang perubahan tak berujung. Berbuat dengan kesungguhan atau berbuat ala kadarnya adalah pilihan. Persoalannya, jika kita seharusnya mampu berbuat dengan kesungguhan, mengapa hanya berbuat ala kadarnya atau tidak berbuat sama sekali di berbagai aspek kehidupan yang mengitari kita?! Melawan arus dengan etis sejatinya adalah juga pilihan, namun dengan menyitir Benjamin Disraeli, bukankah “hidup ini terlalu singkat untuk berpikir dan berbuat yang kecil-kecil!”.

[1] Penulis adalah mantan fungsionaris PB PII Periode 2006 – 2008 yang merupakan putra asli daerah Pesisir Barat. Saat ini berprofesi sebagai pengajar Hukum Tata Negara pada Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Raden Intan Lampung, sesekali menjadi Legal Drafter dalam perumusan Naskah Akademik untuk produk hukum “Perda” di lingkup Kabupaten/Kotamadya, dan juga mengajar Wawasan Kebangsaan dan Pengetahuan Umum pada sejumlah Lembaga Pendidikan Non Formal di Kota Bandar Lampung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here